24-January-2007
Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) berupaya membentengi pelajar, khususnya kader IPNU, dari pengaruh gerakan Islam garis keras yang belakangan kian marak di Indonesia (Republika, 15/01/2006). Sebagai organisasi pelajar yang ada di lingkungan NU, IPNU juga memiliki tanggungjawab untuk memperjuangkan faham Islam moderat. Gerakan ini mesti diikuti oleh organisasi pemuda dan pelajar lainnya.
Menurut Ketua PP IPNU Muhammad Asyhadi seperti dilansir kantor berita Nasional Antara (15/10/2006,) saat ini kader-kader NU yang telanjur masuk ke dalam gerakan Islam radikal tersebut cukup banyak. Kalau sudah masuk, mereka biasanya kehilangan identitas ke-NU- an dan ke-IPNU-annya. Untuk itu, yang dilakukan IPNU itu perlu kerjasama dengan ikatan pelajar lainnya dalam upaya mencetak “superkader” yang diharapkan menjadi motor dalam menghadang pengaruh aliran Islam garis keras di lingkungan masing-masing melalui pelatihan motivasi pelajar dengan sasaran pelajar.
Para remaja atau muda-mudi adalah warisan masa depan agama dan bangsa. Mereka adalah aset yang berharga agar agama Islam dihayati dan dipraktikkan oleh masyarakat Islam secara terbuka dan toleran. Mereka adalah harapan masyarakat dan negara, maka adalah penting bagi kita memastikan agar mereka bersedia untuk membawa obor perjuangan Islam yang ramah dan anti kekerasan pada masa depan.
Untuk membinanya, pelatihan dan pengajaran Islam yang moderat perlu dilakukan. Dan yang lebih penting adalah agar Islam rahmatan lil alamin akan terus menjadi panduan masyarakat kita. Kita sudah mempunyai contoh-contoh yang baik yang kita ambil sebagai tauladan. Sekarang kita melihat semakin ramai anak muda yang berpelajaran tinggi mempunyai kesadaran keislaman yang masih dangkal dan mudah terasuki doktrin-doktrin dari para pembawa garis keras Islam.
Sekarang kita menghadapi teknologi internet dan televisi yang segala bentuk informasi dapat diraih hanya dengan menekan keyboard atau meng-klik mouse pada komputer untuk membuka semua akses tentang ilmu Islam. Gerakan Islam garis keras pun tak bodoh, mereka memiliki akses yang cukup luas dalam berangkasa di dunia maya.
Nah, bila pelajar tidak dibina dan dididik mengenai pandangan ilmu keislaman yang tidak keras, maka bibit-bibit pelaku kekerasan dalam beragama akan selalu muncul. Karena itu, para pelajar perlu diperkuat dengan ajaran agama yang anti terhadap kekerasan dan menyebarkan misi perdamaian Islam.
Kesulitan terbesar generasi muda dewasa ini, selain kekurangan ilmu agama yang rahmatan lil alamin, juga terjadinya degradasi dan dekadensi akhlak dan moral di sebagian besar generasi muda. Sikap mereka yang mudah memberontak dapat dimanfaatkan oleh golongan garis keras sebagai penambah massa untuk melakukakn perusakan-perusakan yang mengatasnamakan agama terntentu.
Oleh karena itu, penguatan dan pengayaan pendidikan/pelajaran Islam yang lebih menekan pada pola pergaulan yang ramah, santun dalam berhubungan antara sesama agama maupun berbeda agama segera dilakukan. Selain tak melupakan bahwa ajaran agama sangat berperan dalam membentuk moralitas dan akhlak. Karena perubahan zaman, nilai-nilai pun bergeser. Moral dan akhlak, serta keyakinan beragama generasi muda kita agak mencemaskan, sehingga peserta didik perlu diberi pengayaan, dibangkitkan kembali kesadarannya akan pengamalan adat dan budaya, kuat keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, maju ilmu dan pengetahuannya. (CMM /Dav).
kirim ke teman
Komentar Anda