06-March-2006
Lamongan-RoL-- Rencana pembuatan film seri peristiwa Bom Bali pertama dengan mengambil lokasi di Bali dan di kampungnya Amrozi, Lamongan, Jatim, yang sudah matang sejak Nopember 2005, akhirnya dibatalkan, karena pemerintah RI tidak mengijinkan, dengan berbagai pertimbangan.
“Kami memaklumi penolakan Jakarta (pemerintah). Saya juga sebagai orang Indonesia merasakan `ketersinggungan` bila film itu jadi dibuat dengan latar belakang Bali dan Lamongan,” ucap Manajer Tanjung Kodok Beach Resort (TKBR), Edy Prawiro, dalam percakapan dengan ANTARA di Lamongan, Minggu.
Menurut dia, awalnya resort TKBR yang dikelolanya, yang baru melakukan ujicoba operasional Nopember 2005 dengan tujuh unit vila dan puluhan kamar, sudah di “booking” oleh produser dari Australia yang akan membuat film Bom Bali I.
Pengambilan lokasi film, selain di Pulau Dewata, tempat tragedi terjadi di Legian, Kuta pada 2 Oktober 2002, juga di Lamongan, khususnya sekitar Tenggulun, dimana keluarga Amrozi berasal.
“Namun, pemerintah Indonesia keberatan atas rencana pembuatan film serial oleh produser dari Australia itu, sehingga akhirnya dibatalkan. Saya maklum, itu masalah peka bagi masyarakat Indonesia,” tuturnya.
Mengenai pasar tempat peristirahatan yang tergolong pertama dan satu-satunya yang beroperasi di Tanjung Kodok, Paciran, dimana merupakan jalur pantai utara Jawa yang bersejarah, yaitu bagian lintasan jalan Anyer-Panarukan yang dibangun penguasa Belanda, Daendeles, menurut Edy masih minim.
“Kebanyakan wisatawan domestik, sedangkan wisman setiap pekannya ada beberapa orang, seperti dari Amerika Serikat, Malaysia dan Korea,” ungkapnya.
Wisman asal AS selain tenaga perminyakan, juga para penyelam, sedangkan dari Korea umumnya menyenangi acara mancing di Laut Jawa. Sementara turis dari Malaysia merupakan wisata spiritual, mengingat di Paciran ada makam salah satu Walisongo, yaitu Sunan Drajat, sekitar 70 km barat laut Kota Surabaya.
Kawasan Paciran direncanakan menjadi obyek wisata bahari --buatan-- dengan dioperasikannya Wisata Bahari Lamongan (WBL) yang juga populer dengan sebutan Jatim Park II --pertama di Malang--. Karena baru, fasilitas yang ada masih terbatas, ujarnya. antara/pur.
Sumber: Republika Online, 5 Maret 2006
kirim ke teman
Komentar Anda