Noordin Tinggalkan Jejak di Surabaya

05-March-2006

JAKARTA - Perburuan terhadap Noordin Mohd Top semakin dekat. Baru-baru ini Noordin meninggalkan jejaknya di Surabaya. Tim pemburu teroris langsung bergerak ke persembunyian Noordin di Kota Pahlawan itu. Namun, lagi-lagi buron nomor wahid Polri itu berhasil meloloskan diri.

Sebagai gantinya, polisi menangkap Ahmad Basir. Dia dituduh menyembunyikan arsitek sejumlah pengeboman di tanah air bersama Dr Azhari Husin tersebut. Basir beralamat di Kalimas Madya, Surabaya. Bujang 36 tahun ini ditangkap usai salat Jumat di masjid dekat rumahnya, Jumat lalu.

Penangkapan Ahmad Basir itu dibenarkan anggota Tim Pembela Muslim (TPM) Achmad Michdan kemarin sore. “Kami diminta bantuan untuk mendampingi Basir setelah kakaknya, (Hatib, Red), datang kemari,” kata Michdan. Hatib datang ke tempat Michdan dengan membawa salinan surat perintah penangkapan Basir.

Surat itu ditandatangani Kadensus 88/Antiteror Polda Jatim Kombespol Oerip Subagyo. Dia memerintahkan anggotanya, Dodiet Prasetyo Aji dan Arif Wicaksono, menangkap Basir. Di surat itu disebutkan jika Basir disangka melanggar UU Antiterorisme 15/2003, termasuk pasal 13 a dan b.

Kedua pasal tersebut mengatur pidana bagi mereka yang dianggap mengetahui adanya tindak pidana terorisme dan mereka yang dianggap menyembunyikan secara fisik atau menyembunyikan informasi soal terorisme. “Yang dituduhkan polisi apalagi kalau bukan menyembunyikan Noordin,” ujar Michdan.

Benarkah Basir menyembunyikan Noordin? Michdan membantahnya. Bahkan, Michdan menuduh polisi saat ini cenderung asal tangkap. Dia mencontohkan penangkapan Ustad Sahal Alamri yang diduga terlibat jaringan Noordin di Poso yang akhirnya dibebaskan karena tidak terbukti.

“Yang perlu ditangkap itu Noordinnya, bukan lalu menuduh-nuduh orang yang diduga membantu begini,” paparnya. Michdan berencana berkoordinasi dengan Ketua Dewan Dakwah Islamiah Indonesia H Husein Umar untuk mengingatkan Kapolri Jenderal Pol Sutanto supaya tidak main tangkap aktivis muslim.

Hatib, kakak Basir, juga menolak jika adiknya dikait-kaitkan dengan aksi terorisme. Menurut dia, Basir adalah pedagang buku dan obat-obatan tradisional. Tapi, dia membenarkan jika Basir pernah ke Ambon dan bergabung dengan Kompak (Komite Penanggulangan Krisis) Ambon saat pecah kerusuhan di sana pada 1999 silam. “Namun, setelah kembali ke Surabaya, ya sudah tidak ke mana-mana lagi,” ungkap Hatib yang kini berdomisili di Bogor, Jawa Barat, ini.

Dia berharap keluarganya mendapat kesempatan membesuk Basir tanpa harus menunggu masa pemeriksaan 7 x 24 jam terlebih dulu. Dari informasi yang dia terima, adiknya diamankan di Mapolda Jatim.

Kadensus 88/Antiteror Polda Jatim Kombespol Oerip Subagyo saat dikonfirmasi membenarkan penangkapan Basir. Oerip juga mengatakan bahwa sampai sejauh ini pihaknya masih mengorek keterangan Basir terkait dugaan menyembunyikan salah seorang pelaku teroris.

“Kita masih mendalami dulu. Makanya, kami belum bisa mengumumkan soal penangkapan itu, termasuk hasil penyelidikan. Masalah itu masih kami kembangkan,” kata Oerip.

Di tempat terpisah, koordinator TPM Jatim M. Syaaf mengatakan sudah dihubungi beberapa kerabat Basir untuk minta perlindungan. Karena itu, hari ini Syaaf bersama beberapa anggota TPM Jatim berencana mendatangi markas Densus 88/Antiteror Jatim.

“Kami akan minta klarifikasi dari petugas Densus tentang dugaan keterlibatan Basir dalam kasus terorisme. Ini harus segera dijelaskan. Sebab, gara-gara penangkapan itu, keluarga maupun kerabat Basir merasa disudutkan. Padahal, saya yakin semuanya masih asumsi-asumsi,” katanya.

Menurut Syaaf, pihaknya tidak menghalang-halangi polisi untuk mengamankan dan menginterogasi seseorang yang diduga terlibat tindak pidana terorisme. Namun, katanya, polisi pun harus profesional.

“Jangan asal tangkap. Saya khawatir seperti kasus serupa yang terjadi di Surabaya, yaitu mengorek informasi sambil mengitimidasi. Ya, asalnya tidak tahu apa-apa, gara-gara diintimidasi sampai stres, akhirnya terpaksa mengaku,” paparnya.


Sempat Melawan

Basir ditangkap usai salat Jumat di Masjid An Nur ,Jl Kalimas Udik. Saat itu dia dalam perjalanan pulang. Di depan Apotek Mustika, tiba-tiba tiga anggota Densus 88/Antiteror Polda Jatim turun dari Nissan Terrano L 1181 MU.

Tanpa banyak kata, Basir langsung dimasukkan ke mobil. Protolan mahasiswa Teknik Kimia ITS angkatan 1990 tersebut sempat diinterogasi di Mapolsekta Semampir, Polresta Surabaya Utara.

Penangkapan ini membuat masyarakat setempat terkejut. Mereka mengira terjadi penculikan. Sebab, Basir yang sehari-hari bekerja di toko buku TB Media Pers, Jl Menur Pumpungan, milik pamannya, sempat melawan. Tapi, polisi berhasil membekapnya.

Lima belas menit kemudian, polisi menuju rumah Basir di Jl Kalimas Madya untuk menyerahkan surat penangkapan dan penggeledahan. Surat itu bernomor SP.K.a.b/14/III/2006/Densus 88/Antiteror.

Surat tersebut memperintahkan tim Densus yang berjumlah 12 orang untuk menangkap Basir. Kamar anak keempat dari enam bersaudara ini digeledah. Sebuah tas hitam milik Basir dibawa polisi. Soal tas yang diambil polisi ini dibenarkan Hatib.

Belum jelas apa saja isi tas yang selalu ditenteng alumnus sebuah SMU di Kawasan Ngaglik, Surabaya itu. Menurut sumber, tas itu berisi buku-buku bacaan Islam. “Polisi menduga buku-buku itu terkait aktivitas Basir, yang dicurigai tersangkut kasus terorisme. Termasuk kecurigaan menyembunyikan buron teroris,” kata sumber itu.

Sumber tersebut mengatakan, hingga tadi malam polisi masih mengeler Basir ke sejumlah tempat yang dicurigai menjadi persembunyian Noordin. Di antaranya dia dikeler ke Ngawi, Magetan, dan sejumlah tempat di kawasan tapal kuda. “Termasuk dikeler ke Malang. Mungkin karena Malang pernah dijadikan tempat persembunyian Dr Azhari Husin,” katanya.

Kapolri dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR pada 30 Januari 2006 lalu telah menengarai adanya kelompok yang membantu pelarian Noordin. Saat ini Noordin telah mempoklamasikan diri sebagai ketua Tandzim Qoedatul Jihad (organisasi basis jihad, Red) untuk wilayah gugusan kepulauan Melayu ini. (naz/sup).

Sumber: Indopos Online, 5 Maret 2006

Komentar Anda

Tulis Komentar






Perlihatkan email   Ingat saya
Peringatkan saya jika seseorang membalas komentar saya?

Ketik huruf dibawah ini:

kirim ke temankirim ke teman
« kembali