Mantan Juru Bicara Taliban yang Kini Kuliah di Universitas Yale, AS

03-March-2006

Tak ke Guantanamo, Merasa Paling Beruntung di Dunia
Banyak mata tertuju ke arahnya tiap kali dia berjalan melintasi halaman atau makan di kantin Universitas Yale. Bagaimana Rahmatullah Hashemi, mantan “tukang pelintir” Usamah Bin Laden itu, bisa masuk universitas prestisius AS?

KETIKA banyak militan Taliban dibawa ke Guantanamo, Rahmatullah Hashemi justru bisa melangkah nyaman di daratan Amerika. Bahkan, dia kini menjadi mahasiswa khusus non-gelar untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya di Universitas Yale, Connecticut.

Hashemi bukanlah Taliban kelas teri. Dia mantan juru bicara alias tukang pelintir Taliban, juga “dubes keliling” yang pernah bersama bos Al-Qaidah, Usamah Bin Laden.

Yale mengizinkan Hashemi kuliah sarjana mulai Mei ini, karena nilai akademisnya bagus. Beberapa profesor dan wartawan Chip Brown - yang menulis cover story Hashemi - menyebut Hashemi mempunyai kisah hidup yang berharga, yang berharga juga bagi Yale.

Ayah dua anak berusia 27 tahun ini sempat muncul selama 30 detik di film dokumenter Michael Moore Fahrenheit 9/11. Di sana, dia berbicara kepada seorang wanita yang mengajukan pertanyaan kritis atas hak-hak perempuan di bawah Taliban. “Saya (ikut) sedih tentang suami kamu. Dia mungkin menghadapi masa-masa sulit hidup bersamamu,” jawab Hashemi.

Hashemi memang pernah masuk ke AS pada 2001. Demi kepentingan Taliban, dia berkeliling AS untuk memberi “penjelasan”. Boleh jadi, saat itu dia memelintir ucapannya demi Taliban.

“Saya sangat muda saat itu,” akunya. “Saat itu, Anda tidak mempunyai kepekaan yang sama seperti Anda miliki kemudian. Anda tidak sekritis seperti perkataan Anda (sekarang),” katanya.

Ia melanjutkan, “Jadi, kadang Anda mungkin menyesali beberapa hal (tapi) film itu mungkin lebih pribadi. Perempuan itu terlalu radikal. Dia berteriak dan menjerit-jerit. Yang saya pikirkan (waktu itu), ’Wow. Bagaimana kehidupan rumah tangganya?’”

Hashemi meninggalkan tanah kelahirannya, Afghanistan, pada 1982. Dia tinggal di Pakistan dan mengenal Taliban di usia 16 tahun. Dia mengaku mulai meragukan ajaran moral Taliban pada 1998. Ketika itu, dia menyaksikan puluhan wanita dihukum cambuk dengan pecut kulit di stadion sepak bola Kabul.

Setelah peristiwa 11 September 2001, dia mengungsi ke Pakistan karena takut serangan balasan AS. Namun, mantan menteri Taliban membujuknya kembali ke Kabul pada awal 2004, untuk menjernihkan namanya kepada Amerika, meskipun dia takut akan diangkut ke Guantanamo.

Di sana dia melakukan beberapa kali wawancara dengan dua orang Amerika, satu di antaranya bernama “Michelle”. “Anda boleh pergi,” kata Hashemi menirukan “hasil” akhir dari wawancara itu.

Seorang teman Amerikanya kemudian menganjurkan dia studi ke Yale. Akhirnya dia mendapat visa dari Kedubes AS di Islamabad dan terbang ke AS.

Kini Hashemi yang belajar ilmu politik meyakini demokrasi sebagai mesin perubahan. Dia juga mendukung kemerdekaan berbicara dan hak-hak perempuan, yang dulu dipasung Taliban.

Namun Hashemi tetap dicurigai. Harold Hongju Koh, dekan Fakultas Hukum Yale, menginginkan penyelidikan penuh terhadap latar belakang Hashemi sebelum diizinkan kuliah sarjana.

Koh dan Hashemi pernah ikut dalam debat di Yale pada Maret 2001 yang berjudul Taliban, Pro dan Kontra. Disebutkan, debat itu panas dan dengan “enggan” Koh menjabat tangan Hashemi di akhir debat.

Apapun, Hashemi yang berambut hitam dan berewok itu mencoba beradaptasi dengan lingkungan akademisnya. Seperti, menyaksikan pertandingan sepak bola Amerika antara Harvard vs Yale, selalu kontak dengan istri dan putranya di Pakistan.

“Dalam beberapa hal, saya adalah orang yang paling beruntung di dunia,” katanya. “Saya bisa berakhir di Guantanamo, tapi malah berada di Yale."(afp/*/nie).

Sumber: Indopos Online, 2 Maret 2006

Komentar Anda

Tulis Komentar






Perlihatkan email   Ingat saya
Peringatkan saya jika seseorang membalas komentar saya?

Ketik huruf dibawah ini:

kirim ke temankirim ke teman
« kembali