Membangun Bangsa Moderat

02-March-2006

Sebelum jamuan makan malam di Istana Nurul Iman, Brunei Darussalam bersama Sultan Hasanal Bolkiah (27/2/06), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa Brunei dan Indonesia harus bisa menampilkan diri sebagai bangsa yang moderat, ramah, dan toleran. Dua negara ini harus bisa menunjukkan ke dunia internasional bahwa Islam adalah agama rahmatan lila ‘alamin.

Presiden berharap di masa mendatang kedua negara menjadi model bagi bangsa-bangsa lain di dunia dalam hal perkembangan Islam moderat, yang ramah dan toleran. Dalam pandangan Presiden Yudhoyono, ajaran Islam yang kita junjung tinggi telah mengajarkan agar senantiasa menjalin persaudaraan dan kasih sayang di antara sesama manusia di muka bumi. Karena itu, sebagai sesama bangsa yang bersaudara dalam jalinan ukhuwah islamiyah, umat Islam harus menujukkan kepada dunia internasional bahwa Islam adalah agama pembawa rahmat bagi semesta alam (Kompas, 1 Maret 2006).

Seruan Presiden Yudhono layak direspons positif oleh umat Islam Indonesia. Karena dalam beberapa waktu terakhir ini Islam “dibajak” oleh segelintir kalangan untuk membenarkan tindakan anarki, kekerasan, dan terorisme. Masih segar dalam ingatan kita, Bom Bali (bobi) I & II dilancarkan atas nama Tuhan. Berlindung di balik ayat-ayat suci Tuhan, para eksekutor Bobi I & II dengan bangga menyatakan bahwa perbuatan biadad mereka direstui Tuhan dan mendapatkan tempat yang istimewa di sisi-Nya.

Aksi biadab ini dimotivasi pemahaman parsial atas Islam (baca: Alquran) dan tidak sesuai dengan jejak (sunnah) Nabi. Perang dalamt pandangan Islam dibolehkan sebagai tindakan defensif (QS al-Baqarah [2]: 194) dan ofensif saat umat Islam dianiaya (QS Al-Hajj [22]:39), kaum musyrik mengikari perjanjian (QS. At-Taubah [9]: 12), dan untuk membela orang yang tertindas (QS an-Nisa [4]: 75). Nabi Muhammad menyatakan bahwa dalam peperangan kaum Muslim tidak boleh membunuh orang tua, anak-anak, dan wanita, musuh yang menyerah, merubuhkan tempat ibadah, dan merusak tumbuh-tumbuhan (Lihat Wawancara RRI dengan Yunahar Ilyas, 15 Februari 2006).

Aksi Bobi I & II sangat jauh sekali dari perang yang dibolehkan oleh Alquran. Bobi bukanlah upaya beladiri dari ancaman kaum lain (tindakan defensif), bukan membela umat Islam yang dianiaya, dan tidak juga untuk membela umat Islam yang tertindas. Bobi dan semua aksi terorisme tidak sesuai dengan kode etik perang dalam Islam yang ditandaskan Nabi Muhammad karena korbannya tidak tebang pilih.

Selain itu, aksi kekerasan oleh kelompok Islam tertentu yang bertemakan “pemberantasan maksiat” telah mencederai Islam sebagai agama rahmatan lila ‘alamin. Negara Indonesia adalah negara hukum, sehingga setiap aspirasi hendaklah melalui prosedur-prosedur yang telah ditentukan. Menyerahkan setiap pelanggaran kepada pihak yang berwenang dan tidak main hakim sendiri. Islam pun mengajarkan hal yang sama. Keluarga korban pembunuhan tidak boleh membunuh si pembunuh dengan tangannya sendiri, tapi menyerahkannya ke pengadilan. Negara yang menjadi eksekutor, bukan keluarga korban.

Amar ma’ruf nahi mungkar merupakan perbuatan mulia dalam pandangan Islam, ia juga syarat bagi umat Islam untuk menjadi umat terbaik (QS Ali Imran [3]: 110). Tapi hendaklah konsep ini dilakukan dengan cara-cara yang dibenarkan dalam Islam, yaitu dilakukan dengan penuh kesabaran dan tidak emosional. Perusakan tempat maksiat tidak akan bisa menggugah hati nurani pelaku dosa, bahkan mungkin mereka akan semakin menjauhi Islam.

Mari becermin pada metode dakwah Rasulullah. Beliau berdakwah dengan penuh kesabaran, menyentuh kalbu, dan mempesonakan orang yang didakwahi sehingga dengan kebulatan tekad menyatakan diri sebagai seorang Muslim. Pepatah menyatakan lisanul hal afshahu min lisanil maqal (dakwah dengan perbuatan lebih efektif daripada dakwah dengan lisan). Kesuksesan dakwah Nabi tidak dapat dilepaskan dari keluhuran budi yang beliau miliki. Jika kelompok Islam ingin sukses berdakwah, hiasilah diri dengan keluhuran budi, salah satu caranya dengan menjauhi kekerasan.

Ini adalah tantangan kita semua, menghiasi diri dengan budi pekerti luhur, menanggalkan cara-cara kekerasan dan terorisme. Sehingga Islam sebagai agama rahmatan lila ‘alamin tidak hanya terdapat dalam kitab suci saja, tapi ia terejawantahkan dalam kehidupan nyata. Semoga harapan Yudhoyono tidak seperti burung pungguk merindukan bulan dan kita tampil sebagai model Islam moderat bagi dunia-dunia Islam lainnya. (CMM/deny)

Komentar Anda

Tulis Komentar






Perlihatkan email   Ingat saya
Peringatkan saya jika seseorang membalas komentar saya?

Ketik huruf dibawah ini:

kirim ke temankirim ke teman
« kembali