02-March-2006
Oleh : Azyumardi Azra
Dalam sebuah breakfast discussion, tentang hubungan dunia Muslim-Barat pascakartun Denmark, di antara beberapa narasumber Indonesia dengan kalangan wartawan asing dan ekspatriat di Jakarta pekan lalu, pembicaraan sempat menyinggung mengenai adanya semacam cultural gaps, kesenjangan budaya di antara kedua belah pihak. Dan kesenjangan budaya tersebut --yang tampaknya tetap belum terjembatani selama berabad-abad-- pada gilirannya menjadi salah satu faktor meningkatnya tensi, dan konflik yang bukannya tidak mirip dengan ‘clash of civilizations’, perbenturan peradaban-peradaban.
Bagaimana sebenarnya soal cultural gaps itu? Apakah kesenjangan budaya itu sebesar yang dibayangkan sejumlah orang, sehingga tidak bisa terjembatani? Yang akhirnya dapat menimbulkan apa yang disebut sebagai ‘benturan peradaban-peradaban’?
Harus diakui, memang terdapat perbedaan dan kesenjangan tertentu antara budaya, kebudayaan, dan peradaban Barat dengan Islam, khususnya di masa moderen. Peradaban Barat modern, meskipun bertitik tolak dari aufkklaruung (pencerahan) yang berpuncak renaisans dengan sekularisme, sering disebut sebagai bersumber dari Judeo-Christian civilization; yakni peradaban yang dalam banyak hal berutang kepada tradisi agama Yahudi dan Kristen.
Tetapi kurang dari duawarsa belakangan ini, ketika banyak penelitian menemukan kaitan antara ‘pencerahan’ Eropa dengan transmisi ilmu, pemikiran, dan kebudayaan yang dikembangkan para ilmuwan Muslim di masa kejayaan Baghdad dan Andalusia, maka orang mulai berbicara tentang ‘Judeo-Christian-Islamo’ civilizations. Bahwa kemajuan peradaban Barat berutang kepada ketiga tradisi keagamaan, yang sering disebut pula sebagai ‘Abrahamic religions’, yang memiliki banyak kesamaan (affinity) dan sejarah bersama (shared history), di samping perbedaan-perbedaan. Istilah ‘Islamo-Christian civilization’ merupakan perkembangan terakhir dari wacana tentang akar-akar historis dan sosiologis peradaban Eropa atau Barat umumnya. Istilah ini pertama kali ditawarkan Richard W Bulliet dalam bukunya, The Case for Islamo-Christian Civilization (2004); sepanjang pengetahuan saya belum pernah ada sarjana dan penulis lain yang menggunakan terma tersebut.
Bulliet, guru besar sejarah pada Columbia University, New York, mengakui banyak Muslim, Kristen, dan juga Yahudi akan mempersoalkan istilah tersebut; dan khususnya kalangan Yahudi yang bisa jadi mencurigainya dengan sengaja menghilangkan ‘Judeo’, dan sebaliknya menggunakan istilah ‘Islamo-Christian’. Boleh jadi dia akan dituduh sebagai ‘anti-Semitik’, atau tepatnya anti-Yahudi.
Bulliet berargumen, kaum Kristiani Eropa dan Muslimin Timur Tengah dan Afrika Utara pada dasarnya tergabung dalam satu peradaban historis tunggal; lebih daripada sekadar afinitas yang bisa ditemukan dalam kitab suci Kristen dan Islam. Hubungan historis antara kaum Muslimin dan Kristiani di kawasan ini sangat berbeda dengan hubungan antara kaum Kristen dan Yahudi. Memang, masyarakat Kristen dan Yahudi pernah sama-sama hidup di kawasan tersebut, tetapi lebih sering tragis daripada konstruktif, yang berpuncak pada Holocaust yang dialami orang-orang Yahudi di Eropa. Di pihak lain, konflik dalam hubungan kaum Muslimin dan Kristiani di Eropa berlangsung dengan intensitas jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan masyarakat Yahudi.
Menurut Bulliet, jika masyarakat Muslim di Timur Tengah dan Afrika Utara bersama masyarakat Kristen di Eropa Barat dan Amerika berasal dari peradaban yang sama, maka konflik yang terjadi di antara keduanya dapat dipandang sebagai konflik sewaktu-waktu di antara unsur-unsur peradaban yang sama. Hal ini analog dengan konflik di antara Katolik dan Protestan. Betapapun tingginya intensitas di antara unsur-unsur satu peradaban yang sama, pandangan tentang warisan yang sama akan mencegah mereka untuk benar-benar muncul sebagai peradaban-peradaban yang berbeda; dan karena itu menjadi lebih mungkin terjadinya rekonsiliasi di antara mereka.
Konseptualisasi wacana ‘Islamo-Christian civilization’ jelas tidak mudah. Hambatan pokoknya adalah naratif sejarah yang dalam masa lebih dari 14 abad ditandai ketakutan timbal balik, polemik, konflik, dan bahkan perang. Dalam masa sekarang, tulis Bulliet, rekonseptualisasi itu semakin sulit, karena berkembangnya anggapan di kalangan Barat, bahwa ada sesuatu ‘yang salah’ dengan Islam dan kaum Muslimin.
Karena itu, menurut Bulliet, langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan restrukturisasi cara berpikir dan cara pandang Barat terhadap Islam dengan menilai kembali narasi sejarah kedua belah pihak secara lebih jernih dan dingin. Hanya dengan cara itu orang bisa melihat, betapa besarnya paralelisme historis antara Islam dan Kristen dalam sumbangannya kepada pembentukan peradaban modern.
Sumber: Resonansi Republika Online, 2 Maret 2006
kirim ke teman
Komentar Anda
saya setuju harus lebih banyak pencerahan yang memiliki platform humanity, mengumandangkan militansi untuk menanamkan nilai nilai kemanusiaan (ibnu rusyd n imnuel kant), bukan menumbuhkan semangat militansi dehumanisasi. dialog lintas agama dan etnik yang berlandaskan demokrasi untuk saling menghargai penting untuk digalakkan, agar tidak terjadi idiologisasi terhadap agama tertentu. Diperlukan kecerdasan emosional untuk memanusiawikan sebuah kekerasan. Maju terus untuk meningkatkan pemahaman tentang nlai nilai kemanusiaan, kita harus bangga sebagai bangsa Indonesia… wassalam, JO
jo - Jun 01, 06 | 10:43 am