Usamah Disebut Pemalu dan Sopan

01-March-2006

SYDNEY - “Tahukah Anda, dia tidak keberatan dipeluk, tapi tidak suka dicium.” Begitulah Joseph Terrence Thomas, 32, menggambarkan pucuk pimpinan Al Qaidah, Usamah bin Laden, saat wawancara dengan program Four Corners ABC.

Thomas juga menyebut Usamah yang kurus itu, “sangat sopan, rendah hati dan pemalu. Dia sepertinya, tampak melayang, benar-benar melayang dari lantai saat berjalan.”

Thomas, sosok yang dijuluki media “Jihad Jack” itu adalah ayah tiga anak dengan istri dari Indonesia. Keluarganya, juga ayahnya, tetap setia mendukungnya sejak dia ditahan November 2004.

Hari Minggu, ia dinyatakan bersalah karena punya paspor palsu dan diancam dua tahun penjara. Thomas juga dinyatakan bersalah menerima USD 3.500 (sekitar Rp 32 juta) dan tiket pesawat dari seorang agen Al-Qaidah di Pakistan dan diancam hukuman 25 tahun penjara. Namun, juri membebaskannya dari pasal menerima dana dari organisasi teroris dan membantu serangan teroris.

Sosok 32 tahun itu menuturkan pencariannya atas makna hidup membawanya ke Afghanistan. Mualaf ini mengaku mengikuti kamp pelatihan Al Qaidah beberapa bulan sebelum 11 September 2001. Dia sempat berjumpa Usamah beberapa kali.

Dia mengatakan, setelah Taliban jatuh, dia tinggal di penampungan di Pakistan selama 13 bulan. Namun, aparat Pakistan menahannya sejak Januari 2003 hingga hampir lima bulan. Dia mengaku dicekik dan kehabisan nafas ketika diinterogasi agen-agen CIA mendesaknya untuk mengatakan kapan serangan baru dilakukan.

“Seorang Amerika, Joe, mengatakan, ’Kita punya mesin baru dan saya suka suara ketika sepasang buah pelir dipelintir’,” tuturnya. “Saya tidak mengira saya akan tetap menjadi manusia yang sama. Saya seperti kelinci yang ketakutan. Saya bangun malam hari dengan keringat dingin.”

Hasil interogasi inilah yang dianggapnya menjeratnya dalam tuduhan ini. Thomas sangat bersyukur setelah mendengar kabar pemerintah Australia mengambil alih interogasinya. Dia yakin akan segera pulang.

Thomas juga mengaku sebenarnya berniat jihad di Afghanistan. Namun, Thomas akhirnya memutuskan untuk pulang ke Australia, karena lelah melihat kekerasan semakin menggila setelah 11 September.

Thomas juga yang mengaku generasi kelima Irlandia-Australia ini mengatakan dia dulu beragama Kristen Anglikan, bekas penari balet, punk rocker, dan sopir taksi sebelum masuk Islam, serta dituduh sebagai agen dari orang yang dianggap paling berbahaya di dunia.

Dia tetap mengaku muslim taat, namun mengatakan konflik di dunia ini bukan karena agama, tetapi “karena orang memanfaatkannya.”

Saat diwawancarai harian The Age terbitan kemarin, Thomas menuturkan Khaled bin Attash - anggota Al Qaidah di Pakistan - menebus agar dia bebas dan memberinya tiket pulang.

Sebelum pulang, Khaled “memanggil saya masuk ke ruangannya dan menyampaikan Usama bin Laden menginginkan pemuda kulit putih. Saya masih bingung, jadi diam saja.” Dia menegaskan tak akan membantu serangan, dia menerimanya karena hanya ingin pulang secepatnya.

’"Saya mungkin naif, dan saya mungkin idealis, tetapi saya buka orang bodoh yang akan membantu melukai orang tidak bersalah,” katanya dalam wawancara sebelum sidang. Dia kini tetap ditahan hingga prapenetapan hukuman Kamis nanti.(afp/ap/nie).

Sumber: Indopos Online, 28 Februari 2006

Komentar Anda

Tulis Komentar






Perlihatkan email   Ingat saya
Peringatkan saya jika seseorang membalas komentar saya?

Ketik huruf dibawah ini:

kirim ke temankirim ke teman
« kembali