01-March-2006
CMM/JKT
Peristiwa 11 September membuka luka lama antara Islam dan Barat. Trauma Perang Salib mencuat lagi kepermukaan. Masing-masing pihak memandang curiga terhadap pihak lain.
“Terorisme Osama” atas nama Islam yang ditujukan kepada Barat, terutama Amerika, bisa menjadi pelicin bagi lahirnya class civilation (benturan peradaban) yang diramalkan oleh Samuel Huntington jika masing-masing pihak tidak bersikap bijkasana.
Hendaknya dipisahkan secara tegas antara Islam dan terorisme. Karena Islam sama sekali tidak menyetujui terorisme. Sebagaimana firman-Nya, “… Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya (QS. al-maidah [5]: 32).
Untuk membela umat Islam dan membebaskan Makkah dari jajahan zionis dan salibis adalah alasan Osama memproklamirkan pembunuhan massal terhadap warga Amerika. Semua itu hanyalah siasat busuk Osama untuk menutupi kebenciannya kepada Barat. Ia marah kepada Amerika karena ia “tidak dipakai” oleh Amerika pasca kemenangan Arab-Afghan (mujahidin Afghanistan) melawan Uni Soviet.
Untungnya, siasat Osama membuat membenturkan Islam dan Barat tidak mendapat respons positif dari kebanyakan umat Islam. Pemerintahan negeri-negeri Muslim menyatakan ketidaksetujuannya atas perilaku Osama, bahkan Organisasi Kofrensi Islam (OKI) membuat pernyataan bersama menentang terorisme. Sikap yang sama juga ditampilkan oleh dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah.
Ketika ketegangan antara Barat dan Islam pasca 11 September mulai “mencair”, koran Denmark, Jyllands-Posten, akhir September 2005 “memprovokasi” kemarahan umat Islam dengan membuat karikatur yang melecehkan Nabi Muhammad. Tak pelak, pemuatan karikatur ini membuat ketegangan baru antara Barat. Menurut Uffe Ellmann-Jensen, konflik pasca pemuatan karikatur Nabi dimenangkan oleh kaum ekstrimis yang ada di dunia Islam maupun di Eropa. Mereka adalah kalangan yang tidak ingin hidup damai dengan yang lain dan selalu menghendaki konfrontasi (Tempo, 22 Februari 2006).
Terciptanya tatanan dunia yang damai adalah impian semua orang. Hidup berdampingan secara damai akan jauh panggang dari api jika masing-masing pihak menyakiti dan tidak menghargai pihak lain. Menghargai dan menghormati keberadaan pihak lain dan nilai-nilai yang dianutnya merupakan syarat mutlak bagi terciptanya tatanan dunia yang damai.
Keberagaman umat manusia adalah sunntullah, Allah berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal” (QS. al-Hujurat [49]: 13). Mengingkari realita ini sama saja dengan menolak kehendak Tuhan. Maka, menghargai pihak lain dan membumikan toleransi ketika membangun hubungan dengan pihak lain merupakan prasyarat bagi kedamian di muka bumi.
Senada dengan hal ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutan pembukaan seminar internasional di Jakarta (22/7/06) mengatakan bahwa penekanan kebebasan berpendapat dan berekspresi tanpa dibarengi sikap toleran merupakan salah satu sebab kenapa umat manusia tidak bisa hidup berdampingan dengan damai. Yudhoyono mengharapkan “pemimpin informal dan warga biasa ambil bagian dalam perang besar dalam tataran ide dan membantu mengembangkan nilai toleransi dan hormat akan perbedaan” (Kompas, 28 Februari 2006).
Di dunia yang semakin mengglobal sebagai akibat dari kecanggihan teknologi informasi, toleransi antar umat beragama, etnis, dan kelompok sosial masyarakat lainnya semakin nyata diperlukan. Kecanggihan teknologi informasi membantu kita mengetahui kejadian di seluruh pelosok dunia, tapi ia juga membantu meluaskan daerah konflik. Sehingga konflik di satu daerah bisa memicu konflik di daerah lain.
Ketika Allah hendaknya mencitakan Adam, Ia diprotes malaikat karena akan menciptakan makhluk yang senantiasa membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah (Lihat, QS. al-Baqarah [2]: 30). Maka, ungkapan Yudhoyono untuk menyebarkan nilai toleransi dan hormat pada perbedaan dan ajakan Uffe Ellmann-Jensen untuk berdiri melawan kaum ektrimis yang tidak mau hidup berdampingan secara damai, harus diamini oleh umat manusia agar dugaan malaikat tidak menjadi kenyataan. Karena Tuhan menciptakan manusia bukan untuk saling menumpahkan darah. (CMM/deny).
kirim ke teman
Komentar Anda