01-March-2006
Penulis: Kristantyo W Broto
JAKARTA--MIOL: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menekankan pentingnya meningkatkan impelementasi kerja sama internasional melawan terorisme, di mana kerjasama intelijen antar negara dinilai masih lemah.
“Bukan sebuah rahasia lagi jika banyak dari kesepakatan internasional itu belum diimplementasikan. Padahal dalam beberapa tahun terakhir ini, kita telah memiliki perjanjian kerjasama regional dan internasional untuk melawan terorisme, baik dalam bentuk perjanjian diplomatik dan pernyataan bersama,” ujar Presiden di hadapan peserta International Seminar of Crime Prevention di Jakarta, Senin.
Seminar itu diikuti oleh para aparat penegak hukum dan pakar bidang terorisme dari 41 negara di seluruh dunia.
Dalam seminar bertajuk ‘Building International Cooperation Against Terorism’ tersebut, Presiden menyayangkan masih lemahnya kerja sama intelijen antar negara untuk saling bertukar informasi.
Dan berdasarkan pengalaman yang ada selama ini, hal itu membuat sulitnya para lembaga terkait untuk menuntaskan setiap kasus terorisme.
“Dan saya percaya, apa yang terjadi di negara-negara berkembang, juga terjadi di negara Barat. Saya cermati yang perlu kita bangun saat ini adalah pembuatan perjanjian teknis, isu struktural, dan mekanisme internal, karena ini akan menentukan nasib kerja sama internasional,” kata Presiden.
Presiden Yudhoyono juga menambahkan, penanganan terorisme tidak bisa dilakukan jika masih ada sikap saling curiga antar negara, komunitas agama, maupun peradaban.
Kepala Negara menyadari bahwa upaya membangun koalisi internasional dengan latar belakang negara, kebudayaan, dan agama tidaklah mudah.
“Tapi kita harus yakin bahwa hal itu dapat kita tangani dengan hati-hati, dan sesuai aturan. Dan pada akhirnya, apa yang kita inginkan bukan semata-mata mengalahkan kelompok teroris, tapi lebih pada penguatan kerjasama internasional untuk memperkuat stabilitas dan perdamaian yang lebih baik,” katanya menjelaskan.
Salah satu hal yang dapat dilakukan, lanjutnya, adalah dengan mendorong dialog dan kerjasama antar agama. Indonesia telah melaksanakan dialog antar agama sebagai isu prioritas untuk kebijakan luar negerinya.
Satu hal, Presiden mengingatkan perjuangan menumpas terorisme juga perjuangan hati dan pikiran.
Kelompok teroris selama ini bergerak dalam jumlah kecil dan selalu bersembunyi, tapi mereka acap kali mengambil keuntungan dari ketidakpastian sistem politik, psikologi, dan keamanan.
“Kondisi seperti itu cocok bagi perkembangan mereka,” katanya.
Menurut Presiden Yudhoyono, ketika seluruh pihak mengatasi terorisme dengan jaringan internasional, jangan melupakan kondisi di dalam negeri.
Merebaknya kelompok teroris di sejumlah negara bukan selalu disebabkan persoalan internasional, namun juga dapat dipicu masalah-masalah lokal.
Presiden juga menyatakan ancaman terorisme bisa dicegah dengan terus mendorong resolusi konflik. Pasalnya, sejumlah kelompok teroris terkait dengan konflik politik di negara masing-masing.
Hal itu sudah dilakukan di Sri Lanka, Irlandia Utara, Thailand Selatan, Filipina Selatan, dan Poso dan Maluku.
Pola ini bisa menekan kekerasan berdarah yang selama ini terjadi. Di Indonesia pola ini sudah dilaksanakan untuk proses perdamaian di Aceh.(Wis/Msc/OL-03).
kirim ke teman
Komentar Anda