20-March-2010
Beribadah Haji dan Umrah yang Berkualitas
Selain ibadah haji, gairah kaum Muslim Indonesia untuk melaksanakan ibadah umrah (haji kecil) dari tahun ke tahun terus meningkat. Terbukti, jumlah jamaah haji dan umrah Indonesia menempati angka tertinggi dibanding negara-negara lain. Yang harus diperhatikan adalah kualitas ibadah jamaah selama di Tanah Suci. Dan inilah yang bisa dijadikan tolok ukur kemabruran ibadah seseorang.
Menurut Habib Salim Barakwan MA, Wakil Ketua Lembaga Dakwah Tarbiyah Islamiyah, kemabruran hendaknya dijaga dengan menerapkannya dalam kehidupan sosial. Seorang Muslim yang sudah menunaikan umrah atau haji, mesti lebih peduli terhadap sesama dan senantiasa menebarkan nilai-nilai kedamaian.
Bagaimana seorang Muslim mesti bersikap pasca menunaikan ibadah umrah atau haji ke Tanah Suci? Membahas hal ini lebih jauh, Tim Sindikasi CMM mewawancarai Habib Salim Barakwan MA, yang juga sebagai Presiden Direktur Biro Perjalanan Haji dan Umrah Basmah Tour, Jakarta. Berikut petikan wawancaranya:
Bagaimana ketentuan ibadah umrah itu?
Syarat rukun serta wajib umrah sama dengan sebagian ketentuan yang ada dalam ibadah haji. Dalam ibadah umrah tidak harus melakukan Wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah dan di Mina maupun melempar Jumrah. Waktu melaksanakannya boleh pada bulan apa saja sepanjang tahun. Tetapi, waktu pelaksanaan ibadah Haji telah ditentukan.
Apa makna ibadah umrah dan haji bagi kaum Muslim?
Aktivitas ibadah haji dan umrah mencerminkan perjalanan dan gerakan terarah. Dari thawaf, sa’i sampai melempar jumroh, hati dan nalar menemukan peran spiritualitas paling nyata. Ketika thawaf, mengelilingi ka’bah, hati kita bergetar. Ka’bah melambangkan ketetapan dan keabadian Allah. Manusia yang mengelilinginya melambangkan aktivitas dan transisi makhluk-makhluk ciptaan-Nya.
Dr Ali Syariati menyebut ibadah haji sebagai langkah menuju “pembebasan diri”, bebas dari penghambaan kepada tuhan-tuhan palsu menuju penghambaan kepada Tuhan Yang Sejati, Allah Swt. Pakaian model ibadah ihram bukanlah penghinaan, tetapi menuntun manusia mengubur pandangan yang mengukur keunggulan karena kelas, kedudukan dan ras. Thawaf memberi pesan tersirat, apa pun yang dilakukan manusia dalam hidupnya hendaknya selalu menjadikan Allah sebagai porosnya. Dalam segala perbuatan hendaknya Allah menjadi tujuan utama, bukan yang lain.
Intinya, ibadah haji dan umrah bukanlah sekadar prosesi lahiriah formal, namun sebuah momen revolusi lahir dan batin untuk mencapai kesejatian diri sebagai manusia. Sesudah berhaji, seseorang haruslah menjadi manusia yang lebih lurus hidupnya dibanding sebelumnya (haji mabrur).
Bagaimana dengan spirit perdamaian dalam ibadah umrah dan haji?
Umrah dan haji merupakan ibadah yang sarat nilai-nilai sosial dan kemanusiaan adihulung. Hal ini misalnya tampak pada larangan menyakiti ataupun melakukan aksi-aksi kekerasan, berbuat fasik dan berbantah-bantahan. Dalam Surat Al Baqarah 197, kaum Muslim yang sedang melakukan ibadah haji dilarang rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan.
Sebuah riset bertajuk “Estimating the Impact of the Haj: Religion and Tolerance in Islam’s Global Gathering” yang dilakukan Asim Ijaz Khwaja, guru besar pada Kennedy School of Government, Harvard University, bersama Michael R Kremer dan David Clingingsmith dari Case Western Reserve University, menyimpulkan bahwa ibadah haji tak hanya bermanfaat dari sisi rohani, tetapi juga sosial. Penelitian selama 8 bulan pada 2006 itu menunjukkan, perjalanan haji juga bernilai positif dalam mengembangkan toleransi, menenggang agama dan budaya yang berbeda.
Dalam hipotesa awal, haji dianggap hanya mengokohkan persatuan dan toleransi di antara umat Islam saja, yang datang dengan berbagai latar belakang. Namun, hasil penelitian justru menunjukkan hal yang berbeda. Haji mengokohkan persatuan umat sekaligus mengikis antipati terhadap non-Muslim.
Studi yang melibatkan 1.600 responden itu juga menunjukkan, haji menjadi salah satu penyokong eksistensi umat Islam di dunia. Ibadah haji juga dinilai mampu meluluhkan sekat-sekat di antara umat Islam sendiri.
Semangat apa yang mendorong Habib memfasilitasi kaum Muslimin untuk melaksanakan ibadah umrah dan haji?
Sebagai muballigh, tentu ini merupakan sebuah panggilan untuk turut serta mensiarkan agama Allah. Sebagai Muslim yang pernah mukim dan menimba ilmu di kota Makkah selama 8 tahun, saya merasa terpanggil menebarkan ilmu dan membagi pengalaman kepada masyarakat Muslim secara luas. Karena itu, melalui Basmah Tour, kami bertekad membimbing para jamaah agar mampu beribadah secara efektif dan serius, sehingga jamaah haji dan umrah akan benar-benar melakukan ibadah yang berkualitas.
Misi Islam adalah rahmatan lil alamin (kerahmatan global) dan haji/umrah merupakan perjalanan spiritual puncak bagi seorang Muslim. Kami merasa puas ketika berhasil mengantarkan para jamaah haji mampu menyelami makna ritual haji/umrah, baik ritual fisik maupun spiritual. Dan ketika seseorang pulang berhaji/umrah, semakin memiliki pandangan yang positif dalam kehidupan ini, sebagaimana makna yang terkandung dalam kata Basmah, tersenyum. []
kirim ke teman
Komentar Anda