10-January-2007
Umat harus melibatkan diri dalam reka cipta dan litbang sains.
KUALA LUMPUR—Ketua Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi, menyeru umat Islam membentuk sikap baru, memberikan perhatian untuk menuntut ilmu dalam bidang sains dan teknologi dengan menjadikan sukses saintis Islam masa lalu sebagai inspirasi.
25-April-2006
Sementara itu Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengisyaratkan pemerintah sedang mempertimbangkan untuk menarik diri dari kesepakatan nuklir dunia atau Nuclear Nonproliferation Treaty (NPT). Atas keputusan itu, Iran siap menerima sanksi yang akan dijatuhkan DK PBB atas program nuklirnya.
“Siapa saja yang berbicara soal sanksi, akan mengalami kerusakan lebih parah dibandingkan Iran,” tegas Ahmadinejad dalam jumpa pers, kemarin. Selama NPT menguntungkan Iran, Ahmadinejad menambahkan, pemerintah tetap mempertimbangkan pakta dan keanggotannya di dalam Badan Energi Atom Internasional (IAEA)..
05-January-2006
Judul : Meluruskan Makna Jihad
Cerdas Beragama, Ikhlas Beramal
Penulis : A. Syafii Ma’arif
Penyunting : Rahimi Sabirin
Cetakan I : Juni 2005
Penerbit : Center for Moderate Muslim
Tebal : 191 halaman
Bagi kita, menempuh jalan radikal sama maknanya dengan hara-kiri, suatu perbuatan yang hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang sesak nafas karena tidak berani hidup secara bermakna. Cara berpikir radikalisme itu adalah cara berpikir yang pengecut. Padahal Al-Quran sangat pro pada kehidupan yang damai dan sejahtera.
Syafii khawatir bahwa sikap radikal atas nama agama justru sebagai tanda pengecut dalam menghadapi kehidupan yang bergerak semakin kencang serta menawarkan tantangan yang memang tidak sederhana. Oleh karena itu, umat Islam harus berbenah diri mengejar ketertinggalan dengan mengedepankan kekuatan iman dan penguasaan ilmu.
Meluruskan makna jihad yang Syafii maksud berrati mengkaji ulang makna jihad dan mempraktikkannya secara proporsional sesuai dengan tuntutan zaman. Tentu saja jihad untuk konteks modern bukan lagi angkat senjata yang berakibat banyaknya korban nyawa tak berdosa. Syafii menekankan penting sikap arif dan cara-cara toleran dalam menghadapi tantangan zaman dan memecahkan beragam persoalan kemanusiaan.
05-January-2006
Judul : Radikalisme Hancurkan Islam (Kumpulan Khutbah Jumat)
Penulis : KH. Hasyim Muzadi
Penyunting : Rahimi Sabiri
Cetakan I : Oktober 2005
Penerbit : Center for Moderate Muslim
Tebal : 271 halaman
Dalam dakwah, radikalisme dan terorisme bukan cara Islam. cara-cara kekerasan dalam berdakwah menjadikan umat sendiri takut dan khawatir, apalagi non-Muslim akan semakin menjauh dan tidak menghormati Islam. Oleh sebab itu, kita perlu mewarisi semangat dan kearifan para Wali Songo yang telah terbukti sukses membawa dan menumbuhkan Islam di Nusantara ini. Mereka selalu mengedepankan sikap tasamuh (toleran dan menghargai perbedaan), tawasut (moderat), tawazun (seimbang atau harmoni), dan i’tidal (berpihak kepada keadilan).
Dengan sikap inilah hendaknya dakwah kita sebarkan. Sehingga, dengan sendirinya radikalisme dan terorisme akan tertolak. Terbukti dalam sejarah bahwa radikalisme tidak pernah membangun peradaban dan menyelesaikan masalah. Justri sebaliknya, radikalisme menghancurkan Islam.
Dalam buku ini, Hasyim Muzadi memberikan pandangan sekaligus refleksinya atas femonema mutakhir gerakan keagamaan radikal. Terlibatnya sebagian kecil aktivis Islam dalam aksi-aksi kekerasan dan terorisme, telah menimbulkan anggapan bahwa Islam adalah agama yang kasar, tidak manusiawi, tidak toleran dan sebagainya. Cara-cara radikal dalam beragama, menurut Hasyim tidak akan membawa kemaslahatan bagi kemajuan perabadan manusia. Justru posisi umat Islam akan semakin tersudut.
05-January-2006
Judul : Aku Melawan Teroris, Sebuah Kedustaan Atas Nama Ahlussunnah
Penulis : Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary
Cetakan I : Juli 2005
Penerbit : Center for Moderate Muslim
Tebal : 122 halaman
SIAPA tak kenal Imam Samudra? Ia begitu popular karena menjadi tersangka dalam kasus Bom Bali. Sebuah buku atas namanya meluncur, yang berjudul: AKU MELAWAN TERORIS. Repotnya, buku yang sarat subhat itu justru menggunakan berbagai ‘dalil’ yang kemudian ditafsiri seenak perut. Tujuannya tentu, mencari pembenaran atas aksi yang mengatasnamakan Islam itu.
Buku itu lebih pas kalau diberi judul AKU ADALAH TERORIS, tentu saja dengan poster sang jagoan yang tengah mengacungkan jari telunjuknya. Sebab tindakan-tindakan dan pemikirannya jauh dari syariat Islam. Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah mengatakan, “Orang-orang yang membunuh dan melukai manusia dengan cara yang tidak syar’i, mereka adalah irhabiyyun (teroris). Mereka adalah para perusak, mereka adalah orang-orang yang membuat kacau keamanan manusia dan menciptakan problem dengan negaranya.” (Diambil dari Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah hal. 112-113)
05-January-2006
Judul : Jihad Akbar di Dunia Modern
Penulis : Rahimi Sabirin
Cetakan I : Pebruari 2005
Penerbit : Pantai Barat Ekspres
Tebal : 52 halaman
Kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan telah melanda sebagian besar kaum Muslim dewasa ini. Fenomena ini semakin diperparah oleh perpecahan di kalangan umat Islam, arogansi elit politik Islam, dan munculnya segelintir orang yang melancarkan aksi-aksi kekerasan yang mengatasnamakan jihad. Akibatnya, umat Islam bukan semakin membaik, malah semakin sulit, terpuruk, dan tertinggal oleh kemajuan dunia global saat ini.
Untuk mengatasi ketertinggalan dan membangun peradaban baru kaum Muslim, semangat jihad haris menjadi landasan berpijak dan bergerak. Tetapi tentu saja perlu pengkajian makna jihad secara mendalam dan dipraktikkan secara proporsional. Kita harus menolak pengertian dan praktik jihad yang identik dengan kekerasan dan perebutan kekuasaan. Hal ini bukan membuka cakrawala dan perluasan makna jihad, tetapi justru akan mempersempit dan merusak citra Islam dan kaum Muslim.
Dunia modern yang semakin kompleks dan kompetitif mengharuskan kaum Muslim untuk bangkit dari ketertinggalan. Jihad yang diarahkan pada pemecahan problematika umat, yakni mengatasi berbagai krisis merupakan bagian dari jihad era modern. Dengan cara itu pula, harga diri, kehormatan, dan kejayaan kaum Muslim akan pulih.
05-January-2006
Judul : Radikalisme di Dunia Islam
Penulis : Deny Suito
Penyunting : Firmansyah
Cetakan I : Januari 2005
Penerbit : Center for Moderate Muslim
Tebal : 200 halaman
RADIKALISME tak jarang pada awalnya bersumber dari pemahaman agama yang skripturalis, tekstualis, rigid, dan sempit. Memang, agama menjadi ideologi dominan dalam beberapa gerakan radikal yang ada. Namun, hal itu tidaklah cukup menggerakkan seseorang untuk melakukan aksi kekerasan. Berbagai kepentingan pribadi, kelompok, dan politik lainnya telah melibatkan umat dalam tindakan kekerasan. Terutama, sejak munculnya kolonialisme Barat di dunia Islam, perlawanan dan kekerasan identik dengan upaya mempertahankan diri dan identitas Islam. Sehingga munculah berbagai harakah Islamiyah yang menjalankan kekerasan untuk mencapai tujuan. Fenomena ini berlanjut hingga dunia modern saat ini. Hegemoni dan digdaya dunia Barat dilawan dengan aksi-aksi kekerasan dan teror.
Bagaimana proses radikalisme di dunia Islam muncul? Sejauh mana pengaruh radikalisme Islam di Timur Tengah terhadap dunia Islam lainnya, termasuk Indonesia? Kenapa sebagian umat Islam mudah terlibat dalam aksi radikalisme? Apa jalan keluar menapak masa depan Islam tanpa radikalisme? Dalam buku sederhana ini mudah-mudahan pembaca dapat memahaminya.
Buku ini merupakan sebuah semangat keberanian mengkritisi berbagai fenomena radikalisme di dunia Islam. Agar masa depan Islam terhindar dari berbagai aksi kekerasan dan terorisme. Pada akhirnya, dengan wajah damai dan ramah Islam dapat menjadi rahmatan lilalamin.
05-January-2006
Judul : Islam dan Radikalisme
Penulis : Rahimi Sabirin
Penyunting : Firmansyah
Cetakan I : Oktober 204
Penerbit : Teras
Tebal : 28 halaman
Istilah “Islam dan radikalisme” mendapat sorotan pasca tragedi WTC 11 September 2001. Meski peristiwa itu penuh dengan rekayasa dan konspirasi Amerika Serikat, tetapi radikalisme dan terorisme atas nama agama langsung dialamatkan kepada umat Islam, khususnya kelompok Al-Qaeda pimpinan Usamah bin Laden. Sejak tragedi itu pula dunia terbelah menjadi dua: negara demokrasi di bawah Amerika Serikat dan Jaringan Al-Qaeda di bawah Usamah.
Dalam polarisasi seperti itu, umat Islam sangat tersudut karena yang dituduh pelaku teroris mayoritas beragama Islam. Bahkan media massa yang didominasi dunia Barat juga menuduh Islam sebagai basic ide gerakan-gerakan radikal. Pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan dan kajiannya Islam lainnya dituduh sebagai sarang teroris.
Buku kecil ini mengupas beberapa aspek radikalisme. Bagian pertama menjelaskan makna dasar “radikalisme Islam”, disusul dengan sisi historis lahirnya gerakan Islam radikal. Bagian selanjutnya penulis menguraikan aspek-aspek ajaran Islam yang berkaitan dengan perdamaian, keadilan, dan toleransi.
31-August-2005
JENDELA BACA “MODERAT”
Selama ini, kita, sebagai bangsa Indonesia dan sebagai umat Islam, dapat dikatakan merupakan bangsa dan umat yang cukup terbelakang dalam era globalisasi ini. Hal ini tentu saja merupakan kenyataan yang cukup ironis apabila dikaitkan dengan fakta historis kita. Indonesia, dengan Sriwijaya dan Majapahitnya, pernah menjadi bangsa yang disegani dunia. Bahkan Sriwijaya menjadi pusat peradaban pada waktu itu. Demikian juga dengan Islam. Islam pernah menorehkan tinta emas dalam lembaran sejarah peradaban dunia ini pada masa Rasulullah dan para sahabat. Namun semua keemasan dan kejayaan itu tampaknya telah sirna. Oleh karena itu perlu bagi kita untuk mencari sebab-sebab kemunduran umat dan bangsa ini, untuk kemudian mengatasinya, sehingga kita dapat kembali menjadi bangsa dan umat yang terhormat dan diperhitungkan di dalam peradaban global ini.
31-August-2005
JENDELA BACA “MODERAT”
Bendung Radikalisme Dengan Moderatisme
Judul Buku : Meredam Gelombang Radikalisme
Penulis : KH. Dr. dr. Tarmizi Taher dkk
Cetakan : Pertama, 2004
Penerbit : CMM Press dan Karsa Rezeki
Tebal : 208 hlm
index.html