13-November-2009
Agama tidak membenarkan tindakan kekerasan, apalagi terorisme, karena agama-agama jelas mengajarkan moderatisme. Dalam Islam diajarkan bahwa Tuhan menginginkan kemudahan bagi manusia, bukan kesulitan. Islam juga mengajarkan rahmat dan salam. Demikian dikatakan H. Jos Soetomo, salah satu Tokoh Masyarakat di Jakarta.
13-November-2009
Proses panjang yang dimulai pada masa awal Islam tentang kemajuan peradaban dan kebudayaannya tidak muncul secara tiba-tiba. Oleh karena itu, sangat disayangkan bila kemajuan kembali peradaban Islam saat ini dicoreng oleh aksi-aksi kekerasan dan terorisme. Sebagian kaum Muslim memang tak sabar dengan kenyataan umat Islam yang sebagian besar masih tertinggal, baik dari segi iptek maupun ekonomi.
09-November-2009
Kemajemukan suatu bangsa kerap menjadi pemicu konflik, baik antarsuku, budaya, maupun agama. Mayo¬ritas umat manusia belum terbiasa hidup rukun dalam perbedaan. Klaim kebenaran dan perasaan superior dari suku, budaya, dan agama yang berbeda menjadi penyebab intoleransi hidup. Bahkan satu sama lain cenderung ingin saling mendominasi.
06-November-2009
Ulama memiliki kedudukan yang istimewa di dalam Islam. Tanpa ulama semua orang akan menjadi nihil dan akan bertindak menurutt hawa nafsu. Karena itu para ulama merupakan anugerah Allah untuk umat manusia bagi membimbing mereka ke jalan yang benar. Sementara itu, umara memiliki peran dalam mengambil kebijakan-kebijakan yang berorientasi pada kepentingan umum. Bagaimana model hubungan kerjasama ulama dan umara yang dapat menopang pembangunan rohani dan jasmani umat? Bertikut pandangan Prof. Dr. Mahmood Zuhdi Haji Abdul Majid, Ketua Jurusan Fikih dan Usul Fikih Universitas Antarbangsa Malaysia, kepada Repoter CMM David K. Alka:
30-October-2009
Beberapa hasil penelitian menemukan fakta lapangan bahwa gerakan dan jaringan radikalisme Islam telah lama menyusup ke sekolah umum, yaitu SMU. Para siswa yang masih sangat awam soal pemahaman agama dan secara psikologis tengah mencari identitas diri ini menjadi lahan incaran pendukung ideologi radikalisme. Targetnya bahkan menguasai organisasi-organisasi siswa intra sekolah (OSIS), paling tidak bagian rohani Islam (rohis).
30-October-2009
Radikalisme, ekstrimisme, dan terorisme merupakan tiga istilah yang selalu digunakan secara bergantian. Namun, menyusul aksi bom bunuh diri dalam beberapa tahun terakhir, istilah “terorisme” lebih popular dibanding “radikalisme” dan ekstrimisme”. Menurut Abd. Rohim Ghazali, meski umumnya ketiga istilah itu berawal dari fundamentalisme dalam beragama, tetapi pelaku teror tidak pantas menyandang label “fundamentalis”, karena seorang fundamentalis tak mungkin radikal atau ekstrim sebab pemahaman agama mereka komprehensif. Menurut aktivis Muhammadiyah ini, radikalisme, ekstrimisme, dan terorisme justri lahir karena dangkalnya pemahaman agama mereka, bukan seorang yang paham agama sampai ke akar-akarnya. Bagaimana mestinya kita menangani terorisme? Berikut pandangan Abd. Rohim Ghazali yang kini aktif di The Indonesian Institute, Jakarta:
23-October-2009
Kerukunan Intern Umat Islam
Kerukunan intern umat beragama Islam menjadi sangat penting dan strategis untuk membangun kerukunan antarumat beragama yang ada di Indonesia ini. Dan kerukunan antarumat beragama dapat dijadikan sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Inilah yang agaknya hendak dicapai dalam Dialog Antar Pimpinan Ormas Islam Pusat dan Daerah yang diadakan selama 4 hari di Sulawesi Selatan pekan lalu. Tema pertemuan ini adalah Dialog Pengembangan dan Peningkatan Wawasan Multikultural Pemberdayaan Ekonomi Umat antar Pimpinan Ormas Islam Pusat dan Daerah.
16-October-2009
Beberapa tahun terakhir, citra Islam cukup memperihatinkan. Dari beberapa tragedi bom bunuh diri, baik di Kedubes Australia, Bom Bali I dan II, JW Marriot I dan II, maupun Ritz Carlton yang terbaru, semua pelakunya melegitimasi perbuatannya dengan idiom-idom Islam, seperti jihad dan perlawanan terhadap orang kafir. Akibatnya, Islam dituduh sebagai agama teroris dan haus darah. Benarkah Islam membolehkan kekerasan? Apakah tindakan para pelaku teror dapat disebut jihad? Untuk mengklarifikasi persoalan ini, berikut wawancara Reporter CMM dengan Prof Dr Sirajuddin Zar, Rektor IAIN Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat:
13-October-2009
Dakwah yang diperintahkan oleh al-Qur’an tidak dimulai dengan penggunaan senjata, tetapi dengan hikmah, yang kemudian diteruskan dengan mau’izah hasanah (nasihat yang baik), dan terakhir adalah jidal (dialog/debat) dengan cara yang ahsan. Walaupun ada hadis yang memerintahkan melarang kemunkaran dengan tangan, yang diprioritaskan daripada dengan lisan dan hati, tetapi pada prakteknya tidak keluar dari sunnah Nabi Muhammad Saw. yang menggunakan cara-cara yang lembut dan persuasif: bukannya main pukul, main pentung, main hajar tanpa ba bi bu dulu.
09-October-2009
Perbedaan agama di negeri ini semakin jelas tidak menjadi halangan orang untuk saling mengenal, memahami, menghargai, dan selanjutnya saling bekerjasama. Perbedaan, tak terkecuali perbedaan keyakinan agama, semakin dipahami bukan sebagai kompetitor atau sebagai musuh, melainkan justru saling bekerjasama dalam kebaikan.