01-July-2010
Sejatinya semua agama selalu mengajarkan harmoni. Begitu Islam juga mengajarkan harmoni dan kasih sayang. Tetapi kenyataannya agama sering menjadi sumber konflik yang tak ada habis-habisnya. Padahal, selama berabad-abad agama-agama besar telah mengajarkan persatuan umat manusia.
20-March-2010
Beribadah Haji dan Umrah yang Berkualitas
Selain ibadah haji, gairah kaum Muslim Indonesia untuk melaksanakan ibadah umrah (haji kecil) dari tahun ke tahun terus meningkat. Terbukti, jumlah jamaah haji dan umrah Indonesia menempati angka tertinggi dibanding negara-negara lain. Yang harus diperhatikan adalah kualitas ibadah jamaah selama di Tanah Suci. Dan inilah yang bisa dijadikan tolok ukur kemabruran ibadah seseorang.
21-February-2010
Sejatinya semua agama selalu mengajarkan harmoni. Begitu Islam juga mengajarkan harmoni dan kasih sayang. Tetapi kenyataannya agama sering menjadi sumber konflik yang tak ada habis-habisnya. Padahal, selama berabad-abad agama-agama besar telah mengajarkan persatuan umat manusia.
05-February-2010
Islam mengakui perbedaan. Islam juga bisa memahami identitas agama-agama lain, namun bukan berarti membenarkan semuanya. Al Quran menegaskan bahwa bermacam agama tidak bisa disatukan. Islam bahkan melarang kaum Muslim mengganggu umat agama lain dalam menjalankan agamanya.
05-February-2010
Seiring dengan majunya zaman, tantangan dakwah pun semakin berat. Telah banyak kajian dari berbagai kalangan, khususnya para pegiat dakwah Islam untuk membuat formula dakwah yang sesuai tuntutan zaman. Namun, di antara tantangan yang paling berat adalah tantangan kemajemukan. Ajakan terhadap kebenaran seringkali berbenturan dengan realitas sosial yang seringkali menyulut konflik karena satu sama lain ingin menjadikan yang lain menganut keyakinannya. Dakwah model apa yang harus dikembangkan dalam konteks masyarakat majemuk? Berikut petikan wawancara Tim Sindikasi CMM dengan M. Hilaly Basya, intelektual muda yang kini tengah menimba ilmu (Islamic Studies) di Universiteit Leiden, Belanda:
01-February-2010
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa gerakan teror bom atau bom bunuh diri adalah produk Timur Tengah yang dibawa oleh mereka yang pernah “belajar” di sana. Para militan yang pernah berkontak langsung dengan Pakistan dan Afganistan yang sering disebut sebagai Peshawar Circle ini dinilai lebih tangguh dan berbahaya daripada mereka yang hanya menjadi martir di lapangan. Dari para alumnus Peshawar Circle inilah mereka yang menjadi eksekutor lapangan mendapat doktrin sehingga berani melakukan bom bunuh diri. Bagaimana rangakaian peristiwa di Tanah Air dengan jejak meraka di Timur Tengah? Berikut perbincangan Tim Sindikasi Media CMM dengan Agus Maftuh Abegebriel, staf pengajar Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pengamat terorisme dan ideologi transnasional:
27-January-2010
Keragaman agama dan budaya yang tidak disikapi dengan semangat perdamaian telah menimbulkan konflik yang tak berkesudahan. Satu sama lain umat beragama atau sekelompok umat dalam suatu agama ingin mendominasi kelompok lain. Perbedaan paham keagamaan dan orientasi politik menjadi sumber konflik di tengah-tengah umat beragama. Sebagian kelompok umat beragama lebih berambisi untuk membanyak jumlah pengikut, daripada meningkatkan kualitas jamaah yang sudah terorganisir. Padahal, meningkatkan kualitas umat, menurut Dr. KH. Tarmizi Taher, jauh lebih penting daripada memperbanyak jumlah.
22-January-2010
Sebenarnya Islam di Indonesia adalah agama yang harus dicontoh oleh bangsa lain di dunia yang berpenduduk Muslim.
Demikian pandangan Prof. Dr. Abdullah Mohammed Baharoon. Rektor Universitas Al-Ahgaff, Yaman, ini tengah melakukan kunjungan di berbagai wilayah di Indonesia untuk menyampaikan pemikiran-pemikirannya terkait pendidikan dan keagamaan. Di sela-sela acara kunjungannya ke Universitas Nasional PASIM, Bandung, pekan lalu, Tim Sindikasi Media CMM mewawancarai alumnus universitas tertua di dunia, Al Azhar University, Mesir, ini. Berikut petikan wawancaranya:
07-January-2010
Pasca serangan teroris dari laut di Mumbai, India, akhir 2008 lalu, kini dunia internasional memperingatkan meningkatnya ancaman kelompok garis keras yang menggunakan laut untuk melancarkan serangan-serangan di masa depan. Bagaimana mencegah ancaman serupa agar tak terjadi di Indonesia mengingat wilayah lautannya sangat luas? Membahas hal ini, Tim Sindikasi Media CMM mewawancarai Prof. DR. Ir. Rokhmin Dahuri MS, pakar kelautan dan perikanan. Berikut petikan wawancaranya:
06-January-2010
Kerusuhan bernuansa SARA di beberapa daerah dalam 8 tahun terakhir pada dasarnya juga menunjukkan rendah dan lemahnya apreasiasi rakyat dan elit terhadap adab demokrasi. Adab demokrasi jelas menjunjung tinggi penegakan hukum. Tidak ada demokrasi tanpa penegakan hukum (law enforcement). Demokrasi tanpa hukum adalah democrazy yang memicu anarkisme. Konflik SARA terjadi justru karena lemahnya penegakan hukum dan rendahnya apresiasi etika dalam penyelesaian masalah sosial berbangsa dan bernegara. Apa yang harus kita lakukan agar kerukunan umat beragama tetap terjaga? Berikut perbincangan Reporter CMM bersama Muhammad Hilaly Basya, intelektual muda yang kini tengah menimba ilmu (Islamic Studies) di Universiteit Leiden, Belanda: